Minggu, 09 Mei 2010

TUGAS #6 JARINGAN KOMPUTER

STATIC ROUTING


Routing adalah proses dimana suatu router menforward paket ke jaringan yang dituju. Suatu router membuat keputusan berdasarkan ip address yang dituju oleh paket. Semua router menggunakan ip address tujuan untuk mengirim paket. Jika routing yang digunakan adalah statik maka konfigurasinya harus dilakukan secara manual, administrator jaringan harus memasukkan atau menghapus rute statis jika ada perubahan topologi.

Suatu jaringan bisnis berskala besar atau enterprise yang terdiri dari banyak lokasi yang tersebar secara remote, maka komunikasi antar site dengan management routing protocol yang bagus adalah suatu keharusan. Baik static routing ataupun dynamic routing haruslah di design sedemikian rupa agar sangat efficient.

Static routing adalah suatu mekanisme routing yang tergantung dengan routing table dengan konfigurasi manual. Disisi lain dynamic routing adalah suatu mekanisme routing dimana pertukaran routing table antar router yang ada pada jaringan dilakukan secara dynamic. Static routing berguna untuk jaringan sederhana yang menggunakan beberapa router dan juga untuk menghemat penggunaan bandwidth.


* Perbandingan Static dan Dynamic Routing




Cara kerja routing statik dapat dibagi menjadi 3 bagian :

* Administrator jaringan yang mengkonfigurasi router

* Router melakukan routing berdasarkan informasi dalam table routing

* Routing statis digunakan untuk melewatkan paket data



Administrative Distance

Administrative distance adalah parameter tambahan yang menunjukkan reliabilitas dari rute. Semakin kecil nilai administrative distance maka makin realibel rutenya. Default administrative distance pada routing statis adalah 1. Nilai dari administrative distance adalah antara 0 sampai 255 yang diberikan setalah next-hop atau gateway.


Konfigurasi Routing Statik

Langkah-langkah untuk melakukan routing statis sebagai berikut

* Tentukan dahulu prefix jaringan,subnet mask, dan address tujuan

* Tambahkan ke dalam tabel route tujuan address

* Masukkan gateway interface atau address next-hop yang direct routing atau terhubung secara langsung ke router tetangga.




Router harus dikonfigurasi sehingga dapat mencapai jaringan 192.168.3.0 dan 192.168.1.0 dengan subnet 255.255.255.0.

· Paket yang tujuannya ke jaringan ke 192.168.3.0 harus dirutekan ke router A.

· Paket yang tujuannya ke jaringan ke 192.168.1.0 harus dirutekan ke router C


Konfigurasi di semua mesin sebagai berikut :

Disini menggunakan perintah dalam routerOS ( courtesy By mikrotik.Router A

Ip route add dst-address=192.168.2.0/24 gateway=172.16.1.2

Ip route add dst-address=192.168.1.0/2 gateway=172.16.1.2

Router B

Ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=172.16.1.1

Ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=172.16.5.2

Router C

Ip route add dst-address=192.168.2.0/24 gateway=172.16.5.1

Ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=172.16.5.1

Routing Default

* Default routing digunakan untuk merutekan paket dengan tujuan yang tidak sama dengan routing yang ada dalam table routing.

* Secara tipikal router dikonfigurasi dengan cara routing default untuk trafik internet.

* Secara aktual menggunakan format dst-address=0.0.0.0/0 gateway=x.x.x.x


Troubleshooting Routing Statik

* Untuk troubleshooting routing statik kita dapat menggunakan tool ping dan traceroute.

* Contoh jika kita dalam router A kemudian kita lakukan ping ke local network jaringan router C tidak berhasil atau gagal gunakan perintah traceroute untuk mengetahui jalur mana yang putus. Kemungkinan masalahnya berada pada router B atau router C.

* Remote router B dan lakukan ping ke router C pastikan berhasil karena router B terhubung langsung dengan router C.


Penentuan Jalur dalam Routing Statik ( Path )

Router menggunakan dua fungsi dasar:

* Fungsi penentuan jalur

* Fungsi switching

Penentuan jalur terjadi pada layer network. Fungsi penentuan jalur menjadikan untuk mengevaluasi jalur ke tujuan dan membentuk jalan untuk menangani paket. Router menggunakan tabel routing untuk menentukan jalur terbaik dan kemudian fungsi switching untuk melewatkan paket.

LINK
STATIC ROUTING

Pada Prinsipnya Setiap router harus kenal semua router dalam satu autonomous system. Semua Router saling bertukar infomasi, Setiap router menghitung jarak terpendek untuk mencapai setiap router. Sebuah link-state routing protocol adalah salah satu dari dua kelas utama protokol routing packet switching yang digunakan dalam jaringan untuk komunikasi komputer. Link-state protokol dilakukan oleh setiap switching node dalam jaringan (node yaitu yang dipersiapkan untuk meneruskan paket-paket; di Internet, ini disebut router).





  • Setiap jalur ada metric, yang menunjukkan biaya
  • Semakin kecil biaya semakin bagus
  • Setiap router akan membuat tree router tujuan berdasarkan biaya yang ada


Tahap tahap Link-State :

  1. Setiap router memperkenalkan diri, dengan mengirimkan paket hallo
  2. Setiap router akan tahu tetangga berdasarkan paket hallo beserta biaya, dimasukkan database
  3. Setiap router mengirimkan basis datanya ke tetangganya dalam paket LSARouter yang menerima paket LSA harus meneruskan ke sel. tetangga sebelahnya
  4. Paket LSA dimasukkan database jika infonya lebih baru
  5. Awalnya terjadi flooding karena setiap router jika ada update data akan mengirimkan. Sampai convergen
  6. Selanjutnya setiap router menghitung jarak terpendek ke router yang lain dengan Shortest Path First, dan terbentuklah tree
  7. Dimungkinkan untuk mencapai Router yang sama, antar router punya tree yang berbeda.


Protokol routing link-state dikenal juga sebagai protokol shortest path first dan dibangun atas algorithma shortest path first Edsger Dijkstra’s.

Protokol routing link-stater IP adalah :

  • Open Shortest Path First (OSPF)
  • Intermediate System-to Intermediat System (IS-IS)

Pada TCP / IP jaringan, link yang paling umum digunakan negara routing protokol Open Shortest Path First (OSPF). On IPX networks. Di jaringan IPX, NetWare Link State Protocol (NLSP) digunakan. Tabel vektor jarak dan protokol link state digunakan dengan setiap protokol jaringan.




Protokol routing link-state lebih mirip sebuah peta jalan karena mereka membuat sebuah peta topologi dari sebuah jaringan dan setiap router menggunakan peta ini untuk menentukan jalur terpendek ke setiap jaringan. Sama halnya saat kita mengacu pada sebuah peta untuk menemukan rute ke kota lain, router-router link-state menggunakan sebuah peta untuk menentukan jalur yang paling diinginkan untuk mencapat tujuan lain.

Router yang menjalankan sebuah protokol routing link-state mengirim informasi tentang status link-nya ke router lain dalam wilayah routing. Status dari link ini mengacu pada jaringan yang terhubung langsung pada-nya dan termasuk informasi tentang jenis jaringan dan router-router tetangga pada jaringan tersebut, karena itu dinamakan protokol routing link-state.


DISTANCE VEKTOR ROUTING

Routing update terjadi secara periodik atau ketika topologi jaringan mengalami perubahan. Adalah hal yang sangat penting untuk routing protokol untuk meng-update table routing. Algoritma distance vector dijalankan di setiap router untuk mengirimkan informasi isi table routingnya ke router-router tetangganya. Table routing tersebut juga berisi informasi mengenai total cost jalur. Total cost jalur ditentukan oleh metric dan alamat logic dari router pertama pada jalur tiap-tiap jaringan dalam table routing.

Distance Vektor adalah sebuah alogaritma dalam menentukan IP pada proses routing. Algoritma ini cara kerjanya dengan membentuk tabel routing di jaringan adalah dengan cara setiap router memberikan informasi mengenai keadaan jaringan yang diketahui router tersebut kepada router-router tetangganya setiap selang waktu tertentu. Informasi keadaan jaringan tersebut adalah dalam bentuk distance-vector (vektor jarak), yaitu jumlah hop yang diperlukan untuk mencapai suatu jaringan. Router tetangga tersebut menyimpan dan mengolah informasi keadaan jaringan yang diterimanya dan juga me-nyampaikan informasi yang dimilikinya ke router- router tetangga yang lain. Hal ini terus berlangsung sampai seluruh router di jaringan mengetahui keadaan jaringan.

Contoh penggunaan algoritma distance-vector, Pada proses pengiriman datagram selalu menggunakan tabel routing. Datagram dapat dikirim langsung ke host tujuan atau harus melalui host lain terlebih dahulu tergantung pada tabel routing. Tabel routing terdiri dari entri-entri rute dan setiap entri rute paling tidak terdiri atas IP address, tanda untuk menunjukkan routing langsung atau tidak langsung, alamat router dan nomor interface. Semua router di jaringan baru dinyalakan. Pada saat ini semua router tidak memiliki informasi distance-vector kecuali pada dirinya sendiri. Informasi vektor jarak tersebut disimpan dalam bentuk tabel routing.

Dalam pembuatan tabel routing prosesnya ialah:

1. Tabel routing yang dimiliki masing-masing router akan berisi alamat jaringan yang terhubung langsung dengan router tersebut.

2. Secara periodik masing-masing router saling bertukar informasi sehingga isi tabel routing terisi lengkap (converged)

3. Jika terjadi perubahan topologi jaringan, maka router akan segera mengupdate informasi routing.

4. Proses update tiap-tiap router dilakukan secara bertahap.

5. Jika letak router jauh, maka dalam proses penerimaan informasi tentang perubahan jaringan akan lama pada suatu lokasi.

6. Terjadi masalah routing-loop akan menghabiskan BW.

Pada dasarnya macam-macam routing protokol yang menggunakan distance vektor ialah RIP

Distance vector routing loop

Routing loop dapat terjadi pada saat ketidak konsistenan table routing.

Contoh berikut ini menggambarkan kejadian tersebut :



Ø Sebelum jaringan 1 putus, semua router memiliki table routing yang benar. Dalam hal ini jaringan dikatakan konvergen. Untuk router C, menuju ke jaringan 1 melalui router B dan jarak dari router C ke jaringan 1 adalah 3.

Ø Ketika jaringan 1 putus, router E mengirimkan update ke router A. router A menghentikan routing paket ke jaringan 1, tapi router B, C dan D tetap meneruskan routing karena mereka tidak diberi informasi bahwa jaringan 1 putus. Ketika router A mengirimkan update, router B dan D menghentikan routing ke jaringan 1. Router C masih belum menerima update. Untuk router C, jaringan 1 masih dapat dicapai melalui router B.

Ø Sekarang router C mengirimkan update secara periodic ke router D, yang menunjukkan jalur ke jaringan 1 lewat router B. Router D mengubah isi table routingnya dan mengirimkan informasi ke router A. Router A mengirimkan informasi ke router B dan E dan proses berlangsung terus. Paket-paket yang ditujukan ke jaringan 1 sekarang akan mengalami loop dari router C ke B ke A ke D dan kembali lagi ke C.


Pendefinisian maximum count

Update invalid jaringan 1 akan meneruskan loop sampai beberapa proses lain berhenti looping. Kondisi ini disebut dengan count to infinity, paket-paket looping terjadi dalam jaringan. Tanpa memberikan counter untuk menghentikan proses, hop count dari distance vector akan meningkatkan waktu paket melalui jaringan. Hal ini akan menyebabkan informasi yang tidakbenar dalam table routing sehinggan routing loop terjadi. Algoritma distance vector memiliki kemampuan untuk selt-correcting, tapi masalah routing loop dapat menyebabkan count to infinity. Untuk mencegah masalah ini, protokol distance vector mendefinisikan infinity ini sebagai maximum number. Nomor ini menunjukkan metric, dimana batas hop count maksimumnya. Dengan metode seperti ini, routing protokol mengijinkan routing loop terus sampai metric mencapai batas maksimum. Nilai maksimum batas hop count pada distance vector defaultnya adalah 15 sehingga paket akan dibuang kalai hop count lebih dari 15 dan dianggap jaringan unrechable.







Kerugian dari Distance vector adalah sebagai berikut:

Ø Membutuhkan waktu yang relative lama untuk mencapai convergence (update dikirim dengan interval waktu tertentu).

Ø Router melakukan kalkulasi routing table nya sebelum mem-forward perubahan tabelnya

Ø Rentan terjadinya routing loop

Ø Kebutuhan bandwidth bisa sangat besar untuk WAN atau environment LAN yang kompleks.

Meskipun protokol distance vector mampu mempertahankan tabel routing, mereka memiliki tiga masalah. Yang pertama adalah bahwa sistem update periodik dapat membuat proses update sangat lambat. Masalah kedua adalah bahwa update periodik dapat membuat sejumlah besar jaringan trafficmuch waktu yang tidak perlu sebagai topologi jaringan jarang harus berubah. Yang terakhir, dan mungkin lebih signifikan, masalahnya adalah bahwa karena router hanya tahu tentang hop berikutnya dalam perjalanan itu, informasi yang tidak benar dapat diperbanyak antara router, menciptakan routing loop.

Dua strategi yang digunakan untuk memerangi masalah terakhir. Satu, split horizon, bekerja dengan router mencegah dari iklan rute kembali ke router lain dari yang telah dipelajari. Yang lain, racun reverse (disebut juga split horizon dengan reverse racun), menyatakan bahwa rute yang diiklankan kembali pada interface dari mana ia belajar, tetapi bahwa ia memiliki dari metrik 16. Ingatlah bahwa metrik 16 adalah dianggap sebagai tujuan tercapai.


HYBRID ROUTING

Hybrid Routing, sering disebut sebagai hibrida seimbang routing adalah merupakan kombinasi dari distance vector dan link-state routing. dimana bekerja dengan cara berbagi pengetahuan dari seluruh jaringan dengan tetangga dan link-state routing yang bekerja dengan router kirim memiliki setiap router pada jaringan tentang tetangga terdekatnya.

Hybrid Routing adalah klasifikasi ketiga routing algoritma . Hybrid menggunakan distance vector protocol untuk metrik yang lebih akurat untuk menentukan jalur terbaik untuk jaringan tujuan, dan melaporkan informasi routing hanya bila terdapat perubahan dalam topologi jaringan. Hybrid routing memungkinkan konvergensi cepat namun memerlukan lebih sedikit pengolahan daya dan memori dibandingkan dengan link-state routing. Sebuah contoh dari protokol routing adalah hibrida (EIGRP). Hybrid menggunakan protokol routing vektor-jarak untuk lebih akurat metrik untuk menentukan jalur terbaik untuk jaringan tujuan, dan melaporkan informasi routing hanya bila terdapat perubahan dalam topologi jaringan.

* EIGRP

singkatan Enhanced Interior Gateway Routing Protocol, EIGRP merupakan protokol routing hibrida yang dikembangkan oleh Cisco. EIGRP menggunakan "algoritma update Terdistribusi" atau "DUAL", itu menggabungkan Link-negara dan-Vector algoritma Jarak Jauh. EIGRP adalah protokol hibrida dianggap seimbang. Tidak seperti IGRP yang hanya mengerti angka-angka jaringan utama, EIGRP dapat dikonfigurasi untuk menggunakan masker subnet dan masker supernet. Format tabel routing EIGRP berbeda dari tabel routing IGRP.
Keuntungan dari EIGRP adalah: Cepat konvergensi, Dukungan untuk berbagai protokol, membutuhkan kurang bandwidth daripada-vektor protokol Jarak karena hanya disiarkan update parsial dan hanya jika perubahan topologi terdeteksi. EIGRP does not use periodic broadcasts. EIGRP tidak menggunakan siaran berkala. Improved loop detection and prevention. Peningkatan deteksi dan pencegahan loop.


Berikut adalah beberapa perbaikan yang lebih IGRP EIGRP:

· DUAL

· Tambahan update

· Loop-jaringan gratis

· Mengurangi penggunaan bandwidth

· Dukungan untuk protokol lapisan jaringan ganda (IP, IPX, AppleTalk)

· Dukungan untuk panjang subnet mask-variabel (VLSMs), jaringan yg tdk berhubungan, dan tanpa kelas routing

· kemampuan jarak vektor

· Summarization rute otomatis pada batas-batas jaringan utama

EIGRP menggunakan bandwidth dan delay secara default menghitung metrik perusahaan. Hal ini juga dapat dikonfigurasi untuk menggunakan kehandalan, beban, dan MTU. EIGRP's metrik adalah sama dengan IGRP's metrik, kecuali bahwa itu adalah dikalikan dengan 256 untuk granularitas ditingkatkan.

* IS-IS:

Sistem Menengah ke sistem intermediate (IS-IS) adalah sebuah routing protokol Hybrid awalnya dirancang untuk CLNS sebagai bagian dari protokol OSI stack dan diuraikan dalam ISO 10589. Ini telah diperluas sehingga termasuk dukungan untuk routing IP. Hal ini sekarang digunakan di operator backbone besar hari ini untuk menyampaikan informasi IP routing. Ia memelihara keadaan database link yang mirip dengan OSPF. Ini mendukung subnet mask variabel panjang. Seperti semua protokol routing itu berada di lapisan jaringan model OSI. IS-IS menggunakan multicast untuk menemukan tetangga router menggunakan hello paket. Ini mendukung otentikasi routing update.


ROUTING INTERNET PROTOKOL

Routing Information Protocol (RIP) adalah sebuah routing protocol jenis distance-vector, dimana RIP mengirimkan routing table yang lengkap ke semua interface yang aktif setiap 30 detik. RIP hanya menggunakan jumlah hop untuk menentukan cara terbaik ke sebuah network remote , tetapi RIP secara default memiliki sejumah nilai jumlah hop maksimum yang diizinkan, yaitu 15 yang berarti 16 dianggab tidak terjangkau (unreachable).

RIP versi 1 menggunakan hanya classful routing, yang berarti semua alat di network harus menggunakan subnet mask yang sama. RIP versi 2 menyediakan sesuatu yang disebut prefix routing, dan bisa mengirimkan informasi subnet mask bersama dengan update-update dari route (classless routing).

Routing Update

RIP mengirim pesan routing-update secara berkala dan ketika perubahan topologi jaringan. Ketika router menerima update routing yang termasuk juga perubahan entri, itu update routing tabel nya untuk mencerminkan rute baru. Nilai metrik jalan meningkat dengan 1, dan pengirim diindikasikan sebagai hop berikutnya. RIP router hanya mempertahankan rute terbaik (rute dengan nilai metrik terendah) untuk sampai ke tujuan. Setelah memperbarui tabel routing nya, router segera mulai mengirimkan routing update untuk menginformasikan router jaringan lain dari perubahan. Pembaruan ini dikirim secara terpisah dari update secara teratur dijadwalkan bahwa RIP router kirim.

RIP Routing Metric

RIP routing menggunakan metrik tunggal (count hop) untuk mengukur jarak antara sumber dan tujuan jaringan. Setiap hop di jalan dari sumber ke tujuan diberikan sebuah nilai jumlah hop, yang biasanya 1. Ketika router menerima update routing yang berisi entri tujuan jaringan baru atau diubah, router menambahkan 1 dengan nilai metrik ditunjukkan dalam memperbarui dan memasuki jaringan pada tabel routing. Alamat IP pengirim digunakan sebagai hop berikutnya.


RIP Stabilitas Fitur

RIP mencegah routing loop dari terus menerus dengan menerapkan batas pada jumlah hop diperbolehkan dalam sebuah jalur dari sumber ke tujuan. Jumlah maksimum dari hop di jalan adalah 15. Jika router menerima update routing yang berisi entri baru atau diubah, dan jika peningkatan nilai metrik oleh 1 menyebabkan metrik menjadi tak terhingga (yaitu, 16), tujuan jaringan dianggap unreachable. Kelemahan dari fitur ini stabilitas ini adalah hanya membatasi diameter maksimum jaringan RIP untuk kurang dari 16 hop.

RIP termasuk sejumlah fitur stabilitas lainnya yang umum untuk protokol routing banyak. Fitur-fitur ini dirancang untuk memberikan stabilitas meskipun perubahan berpotensi pesat dalam sebuah topologi jaringan. Sebagai contoh, RIP menerapkan split horizon ditentukan dalam Holddown Timers dan mekanisme untuk mencegah informasi routing yang salah dari yang disebarkan.

RIP Timers RIP Timers

RIP menggunakan timer banyak untuk mengatur kinerjanya. Hal ini termasuk timer routing-update, rute-timer timeout, dan timer rute-flush. Timer routing-update jam interval antara update routing periodik. Secara umum, sudah diatur untuk 30 detik, dengan nilai acak kecil waktu ditambahkan setiap kali timer reset. Hal ini dilakukan untuk membantu mencegah kemacetan, yang bisa hasil dari semua router secara bersamaan mencoba untuk memperbarui tetangga mereka. Setiap entri tabel routing memiliki timer rute-timeout yang terkait dengannya. Ketika timer rute-timeout berakhir, rute ditandai tidak valid namun tetap dalam tabel sampai rute-flush timer berakhir.

Meskipun usia RIP dan munculnya protokol routing yang lebih canggih, jauh dari usang. yang matang, stabil, didukung secara luas, dan mudah dikonfigurasi. Kesederhanaan adalah cocok untuk digunakan dalam jaringan suatu tulisan rintisan dan dalam sistem otonom kecil yang tidak memiliki jalan cukup berlebihan untuk menjamin biaya overhead protokol yang lebih canggih.



Selasa, 13 April 2010

TUGAS #5

apa itu Subnetting dan Cara Subnetting

Subnetting
adalah sebuah teknik yang mengizinkan para administrator jaringan untuk memanfaatkan 32 bit IP address yang tersedia dengan lebih efisien. Teknik subnetting membuat skala jaringan lebih luas dan tidak dibatas oleh kelas-kelas IP (IP Classes) A, B, dan C yang sudah diatur. Dengan subnetting, anda bisa membuat network dengan batasan host yang lebih realistis sesuai kebutuhan.subnetrouter.JPG

Sebenarnya subnetting itu apa dan kenapa harus dilakukan? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi sebuah jalan. Jalan bernama Gatot Subroto terdiri dari beberapa rumah bernomor 01-08, dengan rumah nomor 08 adalah rumah Ketua RT yang memiliki tugas mengumumkan informasi apapun kepada seluruh rumah di wilayah Jl. Gatot Subroto.

jalan.jpg

Ketika rumah di wilayah itu makin banyak, tentu kemungkinan menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Karena itulah kemudian diadakan pengaturan lagi, dibuat gang-gang, rumah yang masuk ke gang diberi nomor rumah baru, masing-masing gang ada Ketua RTnya sendiri-sendiri. Sehingga ini akan memecahkan kemacetan, efiesiensi dan optimalisasi transportasi, serta setiap gang memiliki previledge sendiri-sendiri dalam mengelola wilayahnya. Jadilah gambar wilayah baru seperti di bawah:

gang.jpg

Konsep seperti inilah sebenarnya konsep subnetting itu. Disatu sisi ingin mempermudah pengelolaan, misalnya suatu kantor ingin membagi kerja menjadi 3 divisi dengan masing-masing divisi memiliki 15 komputer (host). Disisi lain juga untuk optimalisasi dan efisiensi kerja jaringan, karena jalur lalu lintas tidak terpusat di satu network besar, tapi terbagi ke beberapa ruas-ruas gang. Yang pertama analogi Jl Gatot Subroto dengan rumah disekitarnya dapat diterapkan untuk jaringan adalah seperti NETWORK ADDRESS (nama jalan) dan HOST ADDRESS (nomer rumah). Sedangkan Ketua RT diperankan oleh BROADCAST ADDRESS (192.168.1.255), yang bertugas mengirimkan message ke semua host yang ada di network tersebut.

network.jpg

Masih mengikuti analogi jalan diatas, kita terapkan ke subnetting jaringan adalah seperti gambar di bawah. Gang adalah SUBNET, masing-masing subnet memiliki HOST ADDRESS dan BROADCAST ADDRESS.

subnet.jpg

Terus apa itu SUBNET MASK? Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana kita membagi jalan dan gang, atau membagi network dan hostnya. Address mana saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. Jl Gatot Subroto tanpa gang yang saya tampilkan di awal bisa dipahami sebagai menggunakan SUBNET MASK DEFAULT, atau dengan kata lain bisa disebut juga bahwa Network tersebut tidak memiliki subnet (Jalan tanpa Gang). SUBNET MASK DEFAULT ini untuk masing-masing Class IP Address adalah sbb:

CLASS OKTET PERTAMA SUBNET MAS DEFAULT PRIVATE ADDRESS
A 1-127 255.0.0.0 10.0.0.0-10.255.255.255
B 128-191 255.255.0.0 172.16.0.0-172.31.255.255
C 192-223 255.255.255.0 192.168.0.0-192.168.255.255

Subnetting menyediakan cara yang lebih fleksibel untuk menentukan bagian mana dari sebuah 32 bit IP adddress yang mewakili netword ID dan bagian mana yang mewakili host ID.

Dengan kelas-kelas IP address standar, hanya 3 kemungkinan network ID yang tersedia; 8 bit untuk kelas A, 16 bit untuk kelas B, dan 24 bit untuk kelas C. Subnetting mengizinkan anda memilih angka bit acak (arbitrary number) untuk digunakan sebagai network ID.

Dua alasan utama melakukan subnetting:

  1. Mengalokasikan IP address yang terbatas supaya lebih efisien. Jika internet terbatas oleh alamat-alamat di kelas A, B, dan C, tiap network akan memliki 254, 65.000, atau 16 juta IP address untuk host devicenya. Walaupun terdapat banyak network dengan jumlah host lebih dari 254, namun hanya sedikit network (kalau tidak mau dibilang ada) yang memiliki host sebanyak 65.000 atau 16 juta. Dan network yang memiliki lebih dari 254 device akan membutuhkan alokasi kelas B dan mungkin akan menghamburkan percuma sekitar 10 ribuan IP address.
  2. Alasan kedua adalah, walaupun sebuah organisasi memiliki ribuan host device, mengoperasikan semua device tersebut di dalam network ID yang sama akan memperlambat network. Cara TCP/IP bekerja mengatur agar semua komputer dengan network ID yang sama harus berada di physical network yang sama juga. Physical network memiliki domain broadcast yang sama, yang berarti sebuah medium network harus membawa semua traffic untuk network. Karena alasan kinerja, network biasanya disegmentasikan ke dalam domain broadcast yang lebih kecil – bahkan lebih kecil – dari Class C address.

Subnets

Subnet adalah network yang berada di dalam sebuah network lain (Class A, B, dan C). Subnets dibuat menggunakan satu atau lebih bit-bit di dalam host Class A, B, atau C untuk memperlebar network ID. Jika standar network ID adalah 8, 16, dan 24 bit, maka subnet bisa memiliki panjang network ID yang berbeda-beda.

Picture 1: Subnetting

Before Subnetting

Before Subnetting

After Subnetting

After Subnetting

Gambar di Picture 1 menunjukkan sebuah network sebelum dan sesudah subnetting diaplikasikan. Di dalam jaringan yang tidak subnetkan, network ditugaskan ke dalam Address di Class B 144.28.0.0. Semua device di dalam network ini harus berbagi domain broadcast yang sama.

Di network yang ke dua, empat bit pertama host ID digunakan untuk memisahkan network ke dalam dua bagian kecil network – diidentifikasikan dengan subnet 16 dan 32. Bagi dunia luar (di sisi luar router), kedua network ini tetap akan tampak seperti sebuah network dengan IP 144.28.0.0. Sebagai contoh, dunia luar menganggap device di 144.28.16.22 dimiliki oleh jaringan 144.28.0.0. Sehingga, paket yang dikirim ke device ini dikirim ke router di 144.28.0.0. Router kemudian melihat bagian subnet dari host ID untuk memutuskan apakah paket diteruskan ke subnet 16 atau 32.

Subnet Mask

Agar subnet dapat bekerja, router harus diberi tahu bagian mana dari host ID yang digunakan untuk network ID subnet. Cara ini diperoleh dengan menggunakan angka 32 bit lain, yang dikenal dengan subnet mask. Bit IP address yang mewakili network ID tampil dengan angka 1 di dalam mask, dan bit IP address yang menjadi host ID tampil dengan angka 0 di dalam mask. Jadi biasanya, sebuah subnet mask memiliki deretan angka-angka 1 di sebelah kiri, kemudian diikuti dengan deretan angka 0.

Sebagai contoh, subnet mask untuk subnet di Picture 1 – dimana network ID yang berisi 16 bit network ID ditambah tambahan 4-bit subnet ID – terlihat seperti ini:

11111111 11111111 11110000 00000000

Atau dengan kata lain, 20 bit pertama adalah 1, dan sisanya 12 bit adalah 0. Jadi, network ID memiliki panjang 20 bit, dan bagian host ID yang telah disubnetkan memiliki panjang 12 bit.

Untuk menentukan network ID dari sebuah IP address, router harus memiliki kedua IP address dan subnet masknya. Router kemudian menjalankan operasi logika AND di IP address dan mengekstrak (menghasilkan) network ID. Untuk menjalankan operasi logika AND, tiap bit di dalam IP address dibandingkan dengan bit subnet mask. Jika kedua bit 1, maka hasilnya adalah, Jika salah satu bit 0, maka hasilnya adalah 0.

Sebagai contoh, berikut ini adalah contoh network address yang di hasilkan dari IP address menggunakan 20-bit subnet mask dari contoh sebelumnya.


144. 28. 16. 17.





IP address (biner) 10010000 00011100 00100000 00001001
Subnet mask 11111111 11111111 11110000 00000000
Network ID 10010000 00011100 00100000 00000000






144. 28. 16. 0

Jadi network ID untuk subnet ini adalah 144.28.16.0

Subnet mask, seperti juga IP address ditulis menggunakan notasi desimal bertitik (dotted decimal notation). Jadi 20-bit subnet mask seperti contoh diatas bisa dituliskan seperti ini: 255.255.240.0
Subnet mask:

11111111 11111111 11110000 00000000
255. 255. 240. 0.

Jangan bingung membedakan antara subnet mask dengan IP address. Sebuah subnet mask tidak mewakili sebuah device atau network di internet. Cuma menandakan bagian mana dari IP address yang digunakan untuk menentukan network ID. Anda dapat langsung dengan mudah mengenali subnet mask, karena octet pertama pasti 255, 255 bukanlah octet yang valid untuk IP address class.

Aturan-aturan Dalam Membuat Subnet mask

  1. Angka minimal untuk network ID adalah 8 bit. Sehingga, octet pertama dari subnet pasti 255.
  2. Angka maximal untuk network ID adalah 30 bit. Anda harus menyisakan sedikitnya 2 bit untuk host ID, untuk mengizinkan paling tidak 2 host. Jika anda menggunakan seluruh 32 bit untuk network ID, maka tidak akan tersisa untuk host ID. Ya, pastilah nggak akan bisa. Menyisakan 1 bit juga tidak akan bisa. Hal itu disebabkan sebuah host ID yang semuanya berisi angka 1 digunakan untuk broadcast address dan semua 0 digunakan untuk mengacu kepada network itu sendiri. Jadi, jika anda menggunakan 31 bit untuk network ID dan menyisakan hanya 1 bit untuk host ID, (host ID 1 digunakan untuk broadcast address dan host ID 0 adalah network itu sendiri) maka tidak akan ada ruang untuk host sebenarnya. Makanya maximum network ID adalah 30 bit.
  3. Karena network ID selalu disusun oleh deretan angka-angka 1, hanya 9 nilai saja yang mungkin digunakan di tiap octet subnet mask (termasuk 0). Tabel berikut ini adalah kemungkinan nilai-nilai yang berasal dari 9 bit.
Binary Octet Decimal
00000000 0
10000000 128
11000000 192
11100000 224
11110000 240
11111000 248
11111100 252
11111110 254
11111111 255

Private dan Public Address

Host apapun dengan koneksi langsung ke internet harus memiliki IP address unik global. Tapi, tidak semua host terkoneksi langsung ke internet. Beberapa host berada di dalam network yang tidak terkoneksi ke internet. Beberapa host terlindungi firewall, sehingga koneksi internet mereka tidak secara langsung.

Beberapa blok IP address khusus digunakan untuk private network atau network yang terlindungi oleh firewall. Terdapat tiga jangkauan (range) untuk IP address tersebut seperti di tabel berikut ini. Jika anda ingin menciptakan jaringan private TCP/IP, gunakan IP address di tabel ini.

CIDR Subnet Mask Address Range
10.0.0.0/8 255.0.0.0 10.0.0.1 – 10.255.255.254
172.16.0.0/12 255.255.240.0 172.16.1.1 – 172.31.255.254
192.168.0.0/16 255.255.0.0 192.168.0.1 – 192.168.255.254
















Lembar Analisa Praktek Jaringan Komputer

LEMBAR ANALISA PRAKTIKUM JARINGAN KOMPUTER

PEMBUATAN KABEL JARINGAN


Media dan Peralatan Yang di gunakan
  • Kabel UTP

  • Konektor RJ45
  • Tang Crimping


  • LAN Tester

Berikut diagram kabel straight:


Urutan Ujung A
  1. Putih Orange
  2. Orange
  3. Putih Hijau
  4. Biru
  5. Putih Biru
  6. Hijau
  7. Putih Coklat
  8. Coklat

Urutan Ujung B
  1. Putih Orange
  2. Orange
  3. Putih Hijau
  4. Biru
  5. Putih Biru
  6. Hijau
  7. Putih Coklat
  8. Coklat
Kegunaan:
  1. Menghubungkan PC dengan HUB/Switch.
Penggunaan kabel straight yang paling umum adalah sambungan antara PC dan hub/switch. Dalam hal ini PC terhubung langsung ke hub/switch yang otomatis membuat cross-over secara internal dengan menggunakan sirkuit khusus. Dalam kasus penggunaan kabel CAT1, yang biasa digunakan pada saluran telepon, hanya 2 kawat yang digunakan. Koneksi tipe ini tidak memerlukan cross-over khusus karena telepon terhubung langsung ke soket telepon.



Gambar di atas menunjukkan kepada kita standar CAT5 straight yang biasa digunakan untuk menghubungkan PC ke HUB. Anda mungkin sedikit bingung karena Anda mungkin beranggapan data TX + dari satu sisi untuk tersambung ke TX + di sisi lainnya, namun bukan begitu cara kerjanya.
Bila Anda menghubungkan PC ke HUB, HUB yang akan secara otomatis menyilang kabel Anda dengan sirkuit internal, alhasil Pin 1 dari PC (TX +) dihubungkan ke Pin 1 HUB (yang terhubung ke RX +). Hal ini juga berlaku pada pin yang lain.
Jika tidak HUB tidak menyilang posisi pin melalui sirkuit internal (hal ini terjadi jika Anda menggunakan Uplink port pada hub) maka Pin 1 dari PC (TX +) akan terhubung ke Pin 1 HUB (dalam hal ini TX +). Jadi Anda cermati bahwa tidak peduli apapun yang kita lakukan pada port HUB (uplink atau normal), sinyal ditetapkan pada 8 pin pada PC, akan selalu tetap sama, maka setting pin di HUB yang akan berubah sesuai dengan posisi normal atau uplink.

Diagram Kabel Cross


Urutan Ujung A
1. Putih Orange
2. Orange
3. Putih Hijau
4. Biru
5. Putih Biru
6. Hijau
7. Putih Coklat
8. Coklat
Urutan Ujung B
1. Putih Hijau
2. Hijau
3. Putih Orange
4. Putih Coklat
5. Coklat
6. Orange
7. Biru
8. Putih Biru

Cara koneksi dengan kabel Cross Dari PC to PC
PC Pertama
Masukkan ke network connection di control panel :
Start menu | run | control panel
Setelah itu masuk ke bagian Network Connections
Kemudian pilih Local Area Network Connection

Klik kanan Local Area Network Connection, pilih properties

Di kotak dialog Local Area Network Connection Properties, di bagian tab General pilih Internet Protocol ( TCP/IP ) Kemudian Klik Properties

Setelah itu masukkan IP Addressnya 192.168.1.2, kemudian Netmasknya 255.255.255.0

Setelah itu klik button OK, kemudian Close
Nah untuk PC yang kedua tahapnya sama saja dengan yang diatas namun Alamat IP Addressnya berbeda dengan PC yang sebelumnya, anda dapat mengisinya dengan 192.168.1.1 atau dengan IP 192.168.1.x yang lain, terserah anda. Dengan catatan netmasknya harus sama dengan pc yang sebelumnya yakni 255.255.255.0
Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan konfigurasi network setup wizard untuk kedua PC tersebut, agar keduanya dapat saling terhubung sebagai satu workgroup.
Setelah selesai, lakukan ping dari salah satu PC tersebut ke PC lainnya… Jika tampilannya seperti ini maka PC anda telah terhubung satu sama lainnya.
C:\Documents and Settings\Al-k>ping 192.168.1.1
Pinging 192.168.1.1 with 32 bytes of data:
Reply from 192.168.1.1: bytes=32 time<1ms ttl="128" bytes="32" ttl="128" bytes="32" ttl="128" bytes="32" ttl="128" sent =" 4," received =" 4," lost =" 0" minimum =" 0ms," maximum =" 0ms," average =" 0ms">

Rabu, 07 April 2010

Praktikum#2 JAringan Komputer

LEMBAR ANALISA

Praktikum Jaringan Komunikasi -2

Tanggal Praktikum : 1 April 2010
Nama : Ayu Monalisa
Nip : 08 615 048
Kelas : IV B


1. mii-tool dengan kabel dilepas :

~$sudo mii-tool
eth0: no link

2. mii-tool dengan kabel terpasang :

~$ sudo mii-tool
eth0: negotiated 100baseTx-FD flow-control, link ok
3 lspci
~$ sudo lspci
00:00.0 Host bridge: Intel Corporation 82945G/GZ/P/PL Memory Controller Hub (rev 02)
00:02.0 VGA compatible controller: Intel Corporation 82945G/GZ Integrated Graphics Controller (rev 02)
00:1b.0 Audio device: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) High Definition Audio Controller (rev 01)
00:1c.0 PCI bridge: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) PCI Express Port 1 (rev 01)
00:1c.2 PCI bridge: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) PCI Express Port 3 (rev 01)
00:1c.3 PCI bridge: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) PCI Express Port 4 (rev 01)
00:1d.0 USB Controller: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) USB UHCI Controller #1 (rev 01)
00:1d.1 USB Controller: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) USB UHCI Controller #2 (rev 01)
00:1d.2 USB Controller: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) USB UHCI Controller #3 (rev 01)
00:1d.3 USB Controller: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) USB UHCI Controller #4 (rev 01)
00:1d.7 USB Controller: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) USB2 EHCI Controller (rev 01)
00:1e.0 PCI bridge: Intel Corporation 82801 PCI Bridge (rev e1)
00:1f.0 ISA bridge: Intel Corporation 82801GB/GR (ICH7 Family) LPC Interface Bridge (rev 01)
00:1f.1 IDE interface: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) IDE Controller (rev 01)
00:1f.2 IDE interface: Intel Corporation 82801GB/GR/GH (ICH7 Family) SATA IDE Controller (rev 01)
00:1f.3 SMBus: Intel Corporation 82801G (ICH7 Family) SMBus Controller (rev 01)
04:08.0 Ethernet controller: Intel Corporation PRO/100 VE Network Connection (rev 01)

4. arp

5. ifconfig dan route dengan IP 192.168.0.*/24

~$ ifconfig
eth0 Link encap:Ethernet HWaddr 00:19:d1:18:db:cf
inet addr:192.168.0.51 Bcast:192.168.0.255 Mask:255.255.255.0
inet6 addr: fe80::219:d1ff:fe18:dbcf/64 Scope:Link
UP BROADCAST RUNNING MULTICAST MTU:1500 Metric:1
RX packets:1346 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
TX packets:183 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
collisions:0 txqueuelen:1000
RX bytes:294863 (294.8 KB) TX bytes:33261 (33.2 KB)
lo Link encap:Local Loopback
inet addr:127.0.0.1 Mask:255.0.0.0
inet6 addr: ::1/128 Scope:Host
UP LOOPBACK RUNNING MTU:16436 Metric:1
RX packets:456 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
TX packets:456 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
collisions:0 txqueuelen:0
RX bytes:35320 (35.3 KB) TX bytes:35320 (35.3 KB)

~$ route -n
Kernel IP routing table
Destination Gateway Genmask Flags Metric Ref Use Iface
192.168.0.0 0.0.0.0 255.255.255.0 U 0 0 0 eth0

6. ifconfig dan route dengan DHCP :

~$ vim /etc/network/interfaces
auto lo
iface lo inet loopback
auto eth0
iface eth0 inet static

~$ ifconfig
eth0 Link encap:Ethernet HWaddr 00:19:d1:18:db:cf
inet addr:192.168.0.51 Bcast:192.168.0.255 Mask:255.255.255.0
inet6 addr: fe80::219:d1ff:fe18:dbcf/64 Scope:Link
UP BROADCAST RUNNING MULTICAST MTU:1500 Metric:1
RX packets:2773 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
TX packets:377 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
collisions:0 txqueuelen:1000
RX bytes:512510 (512.5 KB) TX bytes:61077 (61.0 KB)

lo Link encap:Local Loopback
inet addr:127.0.0.1 Mask:255.0.0.0
inet6 addr: ::1/128 Scope:Host
UP LOOPBACK RUNNING MTU:16436 Metric:1
RX packets:531 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
TX packets:531 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
collisions:0 txqueuelen:0
RX bytes:42344 (42.3 KB) TX bytes:42344 (42.3 KB)


7 ping, traceroute, mtr :
~$ arp
Address HWtype HWaddress Flags Mask Iface
ab2-desktop.local ether 00:19:d1:18:dd:b0 C eth0


8. netstat –nlptu :
~$ netstat -nlptu
Active Internet connections (only servers)

Proto Recv-Q Send-Q Local Address Foreign Address State PID/Program name
tcp 0 0 127.0.0.1:631 0.0.0.0:* LISTEN 4716/cupsd
udp 0 0 0.0.0.0:68 0.0.0.0:* 4092/dhclient3
udp 0 0 0.0.0.0:33861 0.0.0.0:* 4669/avahi-daemon:
udp 0 0 0.0.0.0:5353 0.0.0.0:* 4669/avahi-daemon:

9. netstat -natu :
~$netstat -natu

Active Internet connections (servers and established)
Proto Recv-Q Send-Q Local Address Foreign Address State
tcp 0 0 127.0.0.1:631 0.0.0.0:* LISTEN
udp 0 0 0.0.0.0:68 0.0.0.0:*
udp 0 0 0.0.0.0:33861 0.0.0.0:*
udp 0 0 0.0.0.0:5353 0.0.0.0:*


Minggu, 04 April 2010

TUGAS # 4

  • TCP Packet
  • ICMP Ping Packet
  • UDP Packet
  • The Router
  • Ping of Death
  • The Router Switch

    Pada mulanya, manusia dan mesin bekerja sama untuk mewujudkan mimpi. Suatu kesatuan kekuatan tanpa mengenal batas geografi. Tanpa melebihkan ras, kepercayaan, dan warna kulit. Suatu era baru dimana komunikasi benar-benar membuat manusia bertemu. Inilah permulaan jaringan.

    Pada video menceritakan apa yang terjadi ketika kita memasuki atau mengklik suatu link. Ketika mengklik suatu link, kita mengirimkan suatu informasi. Informasi dimasukkan ke sebuah mailroom punya Mr IP, dia kemudian dikemas, dilabeli, diberi alamat pengirim, alamat penerima, alamat proxy server.

    Perjalanan selanjutnya, paket dikirim ke network area, yaitu LAN yang sangat tidak terkontrol. Disitulah terjadi pertukaran informasi namun tidak menutup kemungkinan terjadi kecelakaan dan disini mungkin terjadi kemacetan sehingga alamat yang benar sangat diperlukan untuk menempatkan ke jalur yang benar.

    Kemudian paket menemui the Router, dia yag mengatur alur-alur yang benar. Setelah meninggalkan Router, paket-paket menuju the Router Switch yang bekerja seperti pinball yang melempar paket menuju dua jalur.

    Kemudian setelah semua dilalui, paket menuju level berikutnya, yaitu Proxy. Proxy banyak digunakan perusahaan atau lembaga untuk mengenali atau keamanan. Paket ditempatkan di ukurannya masing-masing, ditempatkan dan alamat ataupun URL mereka diperiksa satu-persatu dan label mereka dibuka. Paket yang memenuhi akan lanjut dan paket yang tidak memenuhi akan dihancurkan jika tidak ingin dihancurkan, diperlukan pemantau atau pengatur.

    Perjalanan berikutya adalah melewati Firewall, yang mengenali maksud agar tidak salah tujuan. Kemudian paket menemui the Router lagi, yaitu the Router Firewall, semacam bandwith yang mengenali informasi yang berupa interface, informasi terlarang seperti informasi rahasia perusahaan akan dibuang. Dan informasi atau data yang diminta tidak segampang itu dihancurkan , maka Router Firewall ini memberi penggantinnya.

    Kemudian paket kembali ke jalan, menuju suatu jaringan, seperti jarring laba-laba. Jaringan ini terhbung secara luas dan mengglobal. Jaringan ini benar-benar berbeda dari jalan-jalan sebelumnya. Jalan ini dilindungi suatu dinding, namun ditempat ini memiliki sedikit control atau aturan sehingga tidak menutup kemungkinan menuju berbagai jaringan yang ada. Namun, karena kebebasan ini juga, tidak menutup kemungkinan menemui bahaya, yaitu Ping or Death packet. Paket tersebut adalah paket yang lain dari biasanya dan itdak diinginkan.

    Paket-paket kemudian dikirimkan melalui satelit, telepon, wireless, ataupun kabel. Mereka menempuh jarak yang berbeda-beda, maka kecepatan merekapun bebeda. Di perjalanan inilah yang membebani media tersebut dan kita harus membayarnya.

    Fuh, sekarang hamper mendekati tujuan akhir, si paket menemui suatu firewall lagi. Di firewall ini dapat kita atur, tergantung pada pandanangan kita port mana saja yang di inginkan. Jika diluar port tersebut akan dihancurkan. Misalnya untuk mail portnya adalah 25, untuk web server adalah 80. jadi, paket dilempar lagi menuju poet yang sesuai.

    Masih berjalan-jalan, paket kemudian ditempatkan di suatu interface yang ditempatkan di web server yang dapat dihubungkan ke peralatan seperti web cam hingga computer. Degan begitu, berbagai tujuan kita dapat tertangkap. Apakah untuk browsing ataupun shoping.

    Paket yang diterima kemudian dibuka, informasi diambil dan dikirim ke web server. Nah sekarang paket kosong, paket ini kemudian digunakan kembali untuk diisi informasi yang diinginkan. Setelah didapat, paket jalan-jalan lagi deh….

    Seperti sebelumnya, paket dialamati, dilabeli, kemudian dikirim kembali ke firewall, masuk ke jaringan internet lagi, dan seterusnya… seperti tadi. Hingga paket masuk ke interface dan siap memberikan pesan yang anda pesan tau anda inginkan…

Followers